28 March 2006

Penulis Kaya, Kaya Penulis

menulis dan uang. dua hal yang menurut saya sesuatu yg niscaya saling berhubungan. kalo boleh menarik garis lebih panjang dan lebar, ada semacam pola pikir dalam masyarakat kita tentang pekerjaan. term pekerjaan masih berkutat pada jadi tukang insinyur, pilot, dokter, pegawai kantoran, pns... kenapa menulis dan hal2 lain yg jarang kita bayangkan bisa menjadi pekerjaan? semisal desainer furnitur (seperti yg pernah saya lihat di metro).

lalu apa salahnya menjadikan menulis sebagai pekerjaan? apa salahnya seorang sopir angkot ingin hidup lebih baik dengan menulis? apa salahnya menjadikan royalti sebagai penghasilan yg halal? salahnya karena menganggap menulis sebagai pekerjaan mudah dan instan. bahwa menulis harus dilakukan dengan serius, betul sekali. sesuatu yg dikerjakan dengan tidak serius. bahkan membuat mis instan juga harus serius. artinya ada tahap2 yg harus dilalui dan dilewati dengan benar. mulai dari proses sebelum menulis, saat menulis, setelah menulis (pilihan penerbit), setelah buku terbit. bila ada salah satu di antaranya yg luput, barangkali ada kegagalan pada tahap sesudahnya. bertahun2 ditolak kompas, bila dikaitkan dengan hipotesis saya tsb, bisa terjadi karena ada yg luput saat sebelum menulis. sebelum menulis, penulis mestinya tahu betul naskah yg hendak disusunnya mau diarahkan ke mana dan akan di-"jual" ke mana. (bagi saya, ketika naskah ditawarkan ke media profit, maka sudah terjadi transaksi jual-beli, apa pun motivasi/ideologi di belakangnya.) kalo setiap nulis selalu ditolak kompas, kenapa harus ke kompas? toh masing2 media/penrbitan punya karakter tersendiri. carilah yg cocok dengan karakter tulisan yg telah dibuat. kalau masih ngotot mau dimasukkan ke kompas, maka buatlah naskah yg sesuai dengan karakter kompas.

mengenai pengalaman... ini lebih menarik. kalau ingin menulis tentang menjadi kaya, penulisnya harus kaya atau berhasil lebih dulu. betul sekali. kalau dia saja tidak bisa menjadi kaya, bagaimana bisa memberikan cara menjadi kaya? bagaimana kalau logikanya bukan seperti itu? kenapa seorang dukun malah mengajari orang lain tips agar cepat kaya? kenapa tidak dia pakai sendiri biar kaya dan tidak perlu menjadi dukun? jadi, menulis itulah cara untuk menjadi kaya. jadi, pembaca jangan melihat isi bukunya, melainkan bagaimana proses penulis bisa menjadi kaya karena menjadi penulis....maaf, ini sekadar selingan.

hal terpenting dalam pengalaman dan mengalami adalah masuk ke dalam kajian yg hendak digeluti. kalau ingin berhasil menulis tentang orang kaya, jadilah orang kaya atau bergaul dengan orang kaya; kalau ingin menulis tentang narkoba, bergaullah dengan pemakai atau bahkan ikut memakai agar tahu dan menjiwai saat menulis perasaan orang yg sedang sakaw. begitu? bisa ya, bisa tidak.

penelitian bisa dilakukan dengan terjun bebas, tapi bisa cukup mengawasi dari jarak yg tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.

penulis muda yg karyanya masih belum sempurna, tapi diterbitkan? barangkali karena proses yg dia lakukan sudah tepat. tidak seperti saya yg selalu gagal menjadi penulis.... karenanya, jangan percaya dengan semua ocehan saya.

6 comments:

mbok sekretaris said...

jadi sekarang lagi bikin tulisan-bukan-untuk-kompas yak? :p

Hege Lood said...

Enakan jadi penulis yang sehat, tak peduli kaya atau miskin, hueheheheh...

oscimbul said...

Kadang-kadang jadi seniman itu senewen, mas! Hehehe.... peken kaya tapi malas hehehe

oscimbul said...

Turut berduka buat Bung dan seluruh masyarakat Yogya dari oscimbul Bandung, semoga semua kejadian yang di luar kemampuan kita menjadikan sebuah kekuatan keimanan.

oscimbul said...

Turut berduka buat Bung dan seluruh masyarakat Yogya dari oscimbul Bandung, semoga semua kejadian yang di luar kemampuan kita menjadikan sebuah kekuatan keimanan.

Setan Merah said...

Salah satu seniman Indonesia berkata, "Untuk menjadi Idealis yang efektif perlu uang, bahkan perlu tajir abis." :).