14 November 2006

Buat Mereka Terbahak: Pemakaian Humor dalam Cerita Anak

Tahun 1744 merupakan tahun yang bagus untuk cerita anak. John Newbery menciptakan A Little Pretty Pocket-Book, buku pertama yang ditulis khusus untuk anak-anak. Pada tahun yang sama pula, Mother Goose ditampilkan di panggung dengan puisi anak-anaknya yang sekarang sangat terkenal itu.

Namun, contoh-contoh penulisan cerita anak di atas lebih bersifat didaktis ketimbang menghibur. Mereka didasarkan pada asumsi orang dewasa bahwa masa kanak-kanak semestinya demikian, dan memang dimaksudkan semata untuk mengajari atau menanamkan ajaran moral. Alice's Adventures in Wonderland karya Lewis Carroll yang diterbitkan pada 1865, sering kali dipuji-puji sebagai contoh pertama dari ketakmungkinan dalam buku anak-anak (meskipun di dalamnya terkandung banyak sekali ajaran moral), dan humor-humor Mark Twain tentang sifat manusia menyebabkan buku-bukunya dilarang di sekolah selama bertahun-tahun. Untungnya, para editor, orangtua, dan guru mulai menyadari pentingnya humor di dalam cerita anak (terima kasih yang sangat besar kepada Dr. Seuss), dan buku anak-anak dalam 45 tahun terakhir telah mencerminkan perubahan ini. Masa kanak-kanak, pada masa sekarang, tampak sudah mandiri, bukan hanya sebagai lahan pelatihan bagi masa dewasa. Buku bisa membuat anak-anak bermimpi, berpikir, dan tertawa tanpa harus menceramahi mereka dalam setiap halamannya.

Para ahli pertumbuhan anak umumnya membagi humor dalam empat kategori: humor fisik, humor situasi, humor permainan bahasa, dan humor karakter. Pembagian ini menunjukkan bahwa dua kategori pertama kurang rumit ketimbang dua terakhir. Namun, keempat-empatnya bisa digunakan dalam buku anak dalam semua umur. Buku anak yang paling sukses adalah buku yang mampu membimbing pembaca mengikuti langkah demi langkah lelucon. Yang harus digarisbawahi adalah bahwa semakin subtil dan rumit sebuah lelucon, maka semakin tua pula target pembacanya.

Humor fisik bisa berupa apa pun dari slapstick untuk pembaca yang lebih muda (seekor itik kikuk atau anjing rabun), hingga tokoh yang dibuat keterlaluan untuk novel-novel umur menengah. Humor fisik digunakan dalam buku-buku bergambar dan pembaca awal ketimbang tingkat menengah ke atas dan novel remaja—anak yang lebih tua menyukai humor yang lebih cerdas.

Humor situasi bisa tampak jelas dalam Space Dog karya Natalie Standiford, buku untuk umur 7-10 tahun yang bercerita tentang seekor anjing luar angkasa yang pesawatnya terdampar di halaman belakang seorang anak lelaki. Buku ini lucu sebab situasinya sangat absurd. Dalam buku untuk anak yang lebih tua, humornya lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dekat dengan pengalaman mereka, semisal gadis empat belas tahun yang menabrak seorang anak lelaki ketika dia akan menonton bioskop bersama orangtuanya.

Humor yang melibatkan permainan bahasa bisa digunakan untuk setiap kelompok umur. Mulai dari kata-kata berima dalam puisi anak-anak (sering kali dengan kata-kata yang ganjil), hingga permainan kata-kata untuk umur 7-10 tahun, berkembang menjadi sindiran untuk remaja di mana lelucon sering kali melibatkan acuan pada acara populer di televisi, lagu, atau peristiwa yang muncul pada masa itu.

Humor tokoh mungkin merupakan bentuk yang paling sulit dibangun pengarang. Di dalam sebuah artikel yang ditulis untuk Horn Book pada 1982, pengarang Beverly Cleary menulis bahwa anak-anak “menikmati perasaan superior atas anak-anak yang lebih muda (ditunjukkan oleh tokoh-tokoh dalam buku) dan dibebaskan untuk tahu bahwa mereka telah tumbuh”. Tokoh lucu dalam buku bertindak selayaknya anak-anak yang tidak diperbolehkan melakukan sesuatu dalam kehidupan nyata. Hal utama yang berubah seiring umur pembaca buku adalah situasi yang tokoh temukan. Dalam Space Dog, si anjing dari luar angkasa makan pizza di tempat tidur dan menolak untuk bergabung dengan sesama anjing. Buku untuk anak yang lebih tua mungkin memiliki tokoh yang membantah guru atau orangtua.

Bagaimana kamu tahu dengan tepat bahwa anak akan menemukan kelucuan? Pengarang James Thurber mengatakan, “Tak banyak orang dewasa yang memiliki kemampuan untuk mengingat apa yang lucu bagi mereka sebagai anak-anak.” Jalan terbaiknya adalah dengan mengamati anak-anak berbincang di antara sesama mereka. Jika kamu tidak memiliki anak sendiri, luangkan waktu di taman atau tempat bermain, atau minta izin kepada seorang guru agar kamu bisa mengamati anak-anak di kelasnya selama satu atau dua hari. Tanyakan kepada pustakawan buku anak apa yang paling sering dipinjam dan bacalah. Jika sudah, buatlah humor dalam ceritamu lebih kompleks. Sebab, anak-anak mampu memahami perkembangan humor lebih cepat ketimbang yang orang dewasa kira, dan tak ada yang lebih hina bagi anak 12 tahun ketimbang mengotori tulisanmu dengan lelucon bodoh.

Diterjemahkan dari tulisan Laura Backes, penerbit, Children's Book Insider, the Newsletter for Children's Writers

1 comment:

hebiryu said...

bagus-bagus.. membuka wawasan

cuman terjemahannya gimanaa gitu