10 May 2011

Sekelumit tentang Self-publishing

Akhir-akhir ini ramai lagi soal self/indie-publishing. Internet punya andil sepertinya. Kalau dulu, orang harus ikut training berbayar untuk tahu seluk-beluk dunia self-publishing, sekarang kita bisa dengan mudah browsing di Google. Search engine itu akan antarkan kita ke situs-situs atau blog yang memandu selfpublishing. Internet juga memudahkan bagi para self-publisher dalam promosi maupun marketing. Dulu penulis mungkin masih mikir-mikir untuk menjual sendiri bukunya dengan membuka lapak di bagasi mobil sperti yang pernah Stephen King lakukan. Sekarang banyak blog gratisan, facebook, twitter yang bisa menjadi lapak 24 jam murah-meriah.

Kalau mau dibuat sederhana, ada dua macam alasan seorang penulis memutuskan untuk self-publishing. (1) Karena naskahnya tidak diterima oleh penerbit mana pun, sementara dia merasa butuh mempublikasikan karyanya demi alasan idealisme. Alasan (2) adalah karena ingin memulai bisnis penerbitan mandiri melalui naskah/karya sendiri. Jadi, untuk poin ke-2 ini lebih pada alasan bisnis. Sementara alasan nomor 1 lebih pada keinginan untuk sharing ide, atau sekadar narsis 'sudah terbitkan buku'.

Lalu, muncullah jasa-jasa layanan publishing yang akan bantu para penulis. Iming-iming kemudahan dan keuntungan yang lebih besar dibanding royalti yang diterima di penerbitan tradisional masih menjadi bahan yang ampuh nan menggiurkan. Jasa ini akan tangani bagian-bagian yang tidak dikuasai oleh penulis. Misal soal editing, setting, desain kaver, cetak, bahkan distribusi buku. Si penulis serahkan karyanya kepada si pemberi jasa tsb, lalu ta-dha... naskahnya sudah menjadi buku siap edar.

Lalu, bagaimanakah tawaran bisnis self-publishing ini? Rata-rata para pemilik jasa bantuan self-publishing berikan ilustrasi keuntungan hingga 40% dari harga jual buku. Itu dengan asumsi sudah dipotong ongkos distribusi toko 50%-60%. Sebuah situs jasa self-publishing berikan ilustrasi keuntungan lain yaitu 15-25% dari harga buku. Syaratnya, penulis harus bisa kelola (1) biaya editorial buku, (2) biaya cetak, (3) biaya promosi, (4) harga jual buku. Disarankan juga untuk pergunakan uang dingin sebagai modal, bukan dari dana pinjaman, mengingat risikonya. Penulis harus siap gagal dan bangkrut.

Namun zaman telah berubah. Sekarang ada teknologi print on demand (POD) yang memungkinkan kita cetak buku sesuai kebutuhan. Artinya, penulis tidak perlu tidak perlu diribetkan soal stok di garasi/kamar yang menumpuk karena retur dari toko buku. Penulis tinggal cek berapa pesanan, kemudian cetak via POD. Perlu diketahui bahwa biaya POD cukup besar sehingga penulis harus 'sesuaikan' harga bukunya. Pilihannya adalah kurangi keuntungan agar harga terjangkau, atau ambil untung besar meski harga buku menjadi mahal. Teknik POD ini akan bisa berhasil untuk bisnis dalam skala sangat kecil. Dengan kata lain, penulis tidak sedang posisikan bukunya untuk menjadi buku laris.

Baru-baru ini ada seorang penulis bestseller memilih memasukkan bukunya ke St. Martin. Padahal buku-buku dia sebelumnya sukses dengan cara indie. Alasan dia ternyata sederhana. "Saya tidak mau habiskan 40 jam seminggu untuk urus e-mail, kaver, cari editor, dll. Waktu saya habis untuk sesuatu yang 'bukan menulis'. Padahal tujuan saya adalah membuat tulisan dengan kualitas maksimal bagi pembaca."

Peter Ginna dari penerbit Bloomsburry mempunyai kisah menarik tentang self-publishing. Ada penulis A yang tidak berhasil menjual bukunya secara mandiri walaupun sudah keluarkan uang banyak untuk promosi dan marketing. Beda lagi dengan penulis B. Dia berhasil jual bukunya hingga 5 ribu kopi padahal dia tidak pernah promosi, bahkan dia tidak punya akun facebook dan twitter. Dari dua peristiwa tersebut, Peter berkesimpulan bahwa faktor isi buku menjadi penting. Buku yang bagus dan disukai pembaca akan laku walaupun tidak dipromosikan. Asumsi Peter menjadi masuk akal karena para penulis sangat punya andil dalam keberhasilan terbit mandiri. Kontrol tersebut sering kali lemah karena penulis lakukan semua sendiri. Isi buku yang menurutnya bagus dan disukai, belum tentu juga dalam kenyataannya.

1 comment:

Mayyadah said...

salam
apa kabar mas imam? maaf klo saya sok kenal. saya mengenal mas imam dari sahabat saya, Imazahra fatimah. sebenarnya, sy juga sdh meng add FB mas, tp blm dikonfirmasi hehhe.

trus trang mas, baru2 ini saya nerbitin buku indie. alhamdulillah, saya bahkan ngga nyangka kalo buku saya laris manis, hingga kini saya sdh mencetak 450 eksemplar. cetakan terkahir saya mencetak 300 buku, dan itupun sebentar lgi juga habis pdhl sy cuma ngandalin fb.
tapi mas, seperti isi tulisan mas di atas, saya juga nggak mau pusing lama2, capek bgt ngurusin semua sendiri apalagi sy seorg ibu2 2 anak. makanya kak imazahra nyaranin buku sy ditawarin ke penerbit.jadi, intinya, saya berharap mas imam bisa membantu saya utk menerbitkan buku ini. makasih mas udah baca komen terpanjang di dunia ini hehe.
tentang buku ini bisa dilihat disini:http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1819100081929&set=a.1772422355015.2093705.1372954926&type=1&theater